ENKULTURASI SAMAN

Saman memiliki dua kategori makna dalam KBBI. 1) berkaitan dengan proses peradilan, seperti dakwaan, panggilan pengadilan. 2) memiliki arti tarian ritmik yang telah ditradisikan oleh sebagian masyarakat aceh, dengan komposisi pelakon sepuluh orang dan iringan syair berbahasa Gayo.

Wikipedia menyebutkan tarian saman dilestarikan oleh suku Gayo pada setiap perayaan penting, seperti merayakan milad Nabi Muhammad dan hari besar lainnya. Tarian saman didirikan dan dikembangkan oleh Syaikh Saman. Jadi, penamannya disandarkan pada penciptanya. Tentang siapa yang memberikan nama, saya belum melakukan penelusuran lanjutan.

Saat ini, saman sudah memiliki ragam kegiatan dan pola yang berbeda-beda, setelah terjadinya akulturasi. Tidak hanya fokus pada satu model yang telah ditetapkan oleh UNISCO sebagai representasi Budaya tak benda warisan manusia, pada tahun 2011.

Di Rek-Kerrek, Palengaan Pamekasan, Saman memiliki pola yang sedikit berbeda, namun tidak bertentangan. Bacaan-bacaan yang disyairkan sama, yaitu munajat kepada Tuhan. Dzikir, istighfar, dan pujian kepada Allah beserta rasulnya menjadi pengisi kegiatan saman ini. Bedanya hanya dalam bagian kecil syair, dan lain-lain. Kalau di Gayo, ada syair berbahasa gayo. Kalau di Rek-kerrek sebagian syairnya berbahasa Madura, salah satu distingsi antara model saman gayo dengan saman Rek-Kerrek.

Saman di Rek Kerrek identik dengan bacaan-bacaannya, tidak tentang tariannya. Sehingga tariannya cendrung homogen, dan tidak tunggal. Variasi tarian ini adalah bagian pembeda dengan versi saman klasik, karena yang utama adalah bacaan yang disuarakan secara bersama-sama betul-betul padu dan seirama dan menggema.

Enkulturasi (pembudayaan) saman ini semakin memperkuat elan vital dalam kebudayaan manusia. Boleh jadi, saman menjadi tradisi yang dapat menyatukan satu segmen sosial “yang barangkali” tidak pernah ketemu dan tidak padu. Pengistilahan saman dapat menyatukan, meskipun versi dan modelnya tidak satu.

Pembudayaan saman bisa menjadi salah satu segmentasi sarana dakwah keagamaan sekaligus kebangsaan (persatuan). Saman tidak dalam rangka melakukan dekulturasi, yaitu proses pemusnahan hal yang bernilai substantif dari kebudayaan yang sudah ada. Karena proses dekulturasi akan ada penolakan (rejektion).

Saman bisa hidup dalam berbagai kondisi. Konsep dan penerapannya bisa saja komplek dan tidak tunggal. Bisa menggunakan adisi, dengan menambah unsur baru. Ada yang berbentuk sinkretisme, yaitu kombinasi yang lama dengan yang baru. Bisa juga dengan substitusi, dengan mengganti unsur lama. Itu semua harus berjalan normal dan tidak merusak, karena setiap uapaya pengrusakan akan mendapatkan perlawanan, meskipun menggunakan media sakral agama sekalipun.

Jangan menanyakan tentang substansi yang disampaikan melalui saman. Karena setiap lakon yang tercipta oleh peradaban masyarakat yang berbudaya akan sarat dengan pesan agung dan mulia.

Jangan pula menanyakan tentang hukumnya, karena yang anti budaya mulia akan tetap bersikukuh membid ahkan dan mengkafirkan. So, siapa saja yang ikhlas dan paham terhadap ruh saman, akan sangat larut dalam lantunan saman yang sarat makna.

#Saman_Budaya_Mulia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *